2008-09-06 09:43:00
''Sepertinya mau kiamat''. Itulah istilah yang digunakan Menteri Sekretaris Negara, Hatta Rajasa, menyikapi heboh pembakaran Supertoy HL2 di Desa/Kec Grabag, Kab Purworejo, Jawa Tengah. Orang nomor satu dan nomor dua Republik ini pun langsung melakukan klarifikasi. Supertoy ternyata varietas yang belum bersertifikat alias bodong.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghubungi Heru Lelono. Heru adalah staf khusus Presiden Bidang Otonomi dan Pemerintahan Daerah yang juga komisaris utama PT Sarana Harapan Indopangan (SHI) --perusahaan yang membawa bibit itu ke Grabag. ''Presiden bertanya melalui telepon: apa persoalannya, bagaimana situasinya, apa yang terjadi,'' kata Juru Bicara Kepresidenan, Andi Mallarangeng di Kantor Presiden, Jumat (5/9).
Soal kunjungan Presiden ke Grabag memanen Supertoy, April lalu, Hatta Rajasa menegaskan itu atas permintaan Bupati Purworejo. Adapun staf khusus Presiden, kata dia, hanya menjembatani. Dalam pidatonya saat itu, kata Hatta, Presiden meminta Menteri Pertanian meneliti Supertoy. ''Kalau terbukti memiliki keunggulan, disertifikatkan, kemudian disebarkan,'' kata Hatta.
Hatta meminta masalah Supertoy tidak dipolitisasi. ''Hingga saat ini kita sudah miliki ratusan varietas padi. Tapi, yang segelintir hektare ini sepertinya Republik ini sudah mau kiamat saja,'' katanya.
Wakil Presiden Jusuf Kalla juga langsung menghubungi Menteri Pertanian, Anton Apriyantono. Dia mendapat informasi Supertoy belum bersertifikat. ''Itu memang baru tahap ujicoba. Kalau ujicoba, ya bisa saja gagal. Namanya juga ujicoba,'' kata Kalla, kemarin. Tapi, Kalla langsung menunjuk PT SHI yang bertanggung jawab dalam kasus Grabag, karena menyebarkan benih yang belum lulus uji.
Bodongnya Supertoy, dibenarkan Badan Litbang Pertanian Departemen Pertanian (Balitbang Deptan). Supertoy yang merupakan varietas baru hasil persilangan Rojo Lele dan Pandanwangi Jawa itu masih diteliti Balai Besar Penelitian Padi (Balitpa) Deptan. Karena itu keunggulan-keunggulan Supertoy --antara lain sekali tanam bisa dipanen tiga kali dan mampu menghasilkan 14,7 hektare pada panen pertama dan 19 hektare pada panen kedua-- masih klaim.
''Kami bukan bermaksud membenarkan atau menyalahkan, karena masih dalam penelitian. Tapi, secara ilmiah belum ada bukti nyata,'' kata Kepala Balitbang Deptan, Sumardjo Gatot Irianto, kemarin.
Kepala Pusat Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) Deptan, Hindarwati, terang-terangan menuding PT SHI melanggar UU No 12/1992 tentang Sistem Budidaya tanaman. ''Meskipun benih tersebut hanya diberikan atau tidak dijualbelikan, tetap harus melalui prosedur dilepas dulu oleh Menteri Pertanian,'' kata Hindarwati.
Sebelum suatu benih dilepas oleh Menteri Pertanian, Hindarwati mengatakan harus lebih dulu melalui berbagai macam pengujian. Antara lain uji terbatas maupun uji multilokasi.
Skenario
Supertoy yang ditanam di Grabag itu merupakan ujicoba? Menurut Bupati Purworejo, Kelik Sumrahadi, PT SHI dan Gerakan Indonesia Bangkit (GIB) memang datang menawarkan kerja sejak September 2007 lalu. Ujian itu dilakukan sebelum Supertoy didaftarkan ke Departemen Pertanian.
Situs milik Gerakan Indonesia Bangkit (GIB), www.gib.or.id mengungkapkan bahwa Supertoy juga telah ditanam dan dipanen di Kulonprogo, Yogyakarta (lima hektare); Madium (3,9 hektare); dan Purworejo (103 hektare).
Kendati sertifikatnya belum lagi turun, situs itu memberi kesan Supertoy seperti akan melakukan ekspansi besar-besaran, dan akan ditanam di berbagai wilayah Indonesia, dengan membentuk Kelompok Tani Indonesia Bersatu (KTIB). September ini, Supertoy akan ditanam di atas lahan seluas 420 ribu hektare. Pada Desember nanti, total produksi Supertoy ditargetkan sudah mencapai 6,2 juta ton atau setara dengan sekitar 4,34 juta ton beras.
Kemarin, dalam konferensi pers di Kantor GIB, CEO PT SHI, Iswahyudi, memaparkan Supertoy sudah ditanam di Madura, Ngawi, Nganjuk, Bali, Madiun, Ponorogo, dan Sidrap. Total lahannya sekitar 1.000 hektare.
Untuk uji laboratorium, Iswahdyudi mengatakan Supertoy mampu menghasilkan 14 ton gabah per hektare. Tapi, realitas 7-8 ton per hektare. Hanya di Desa Melilir, Kec Ndolopo, Madiun, kata dia, panen kedua mendapatkan hasil 10,4 ton per hektare.
Soal adanya kegagalan pada panen kedua di atas Grabag, Iswahyudi meminta Kepala Desa Grabag, Gandung Sumriyadi, untuk menyebutkan lahan milik siapa saja yang gagal. Bulir kopong, kata Iswahyudi, bisa terjadi karena tak dipupuk, ada penyakit, air menggenang, dan petani tak merawatnya dengan baik. ''Saya curiga tak dipakaikan pupuk. Supertoy perlu pupuk yang langsung ke stomata daun. Selebihnya sama dengan jenis lainnya.''
Pada panen pertama, April lalu, Iswahyudi mengatakan petani telah mendapatkan pembayaran rata-rata Rp 2,3 juta per petak, atau Rp 13,13 juta per hektare. Bahkan, kata dia, ada yang menerima Rp 16 juta.
Iswahyudi mengakui Supertoy belum mendapatkan sertifikasi. Tapi, bila Menteri Pertanian hendak menghentikan, dia mengatakan, ''Ya, dengan alasan sesuai hukum, ya tak apa-apa. Hanya, bagaimana dengan yang 900 hektare lainnya yang sudah menghasilkan?''
Heru Lelono mengaku telah berbicara dengan Menteri Pertanian, kemarin. ''Tidak ada permintaan itu,'' katanya.
Heru menegaskan proyek Supertoy murni milik SHI. Tak ada dana dan fasilitas negara, juga tak ada hubungannya dengan Presiden SBY. ''Presiden hanya mendorong penelitian ini,'' kata Sekretaris Umum GIB ini.
Iswahyudi meminta maaf kepada Presiden atas gangguan yang dirasakan soal kejadian Supertoy yang dikatakan gagal di Purworejo. Menurutnya, kehadiran Presiden saat panen di Purworejo itu sangat menggembirakan SHI, namun ditegaskannya Presiden hanya hadir karena undangan Bupati Purworejo.
Anggota Komisi IV DPR, Syamsul Hilal (PKS), mengingatkan pemerintah agar tidak memperkenalkan produk benih padi unggulan sebelum benih tersebut disertifikasi. ''Bisa saja memang sudah diuji di satu daerah, tapi kondisi tanah, cuaca, dan perawatan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan varietas tertentu,'' ujar Syamsul. zak/wed/dwo/ant

Tidak ada komentar:
Posting Komentar