Sabtu, 06 September 2008

Sengkarut Supertoy yang Bikin Letoy, PT SHI sengsarakan petani

Sumber : http://www.suaramerdeka.com

05/09/2008


Purworejo, CyberNews. Air mata Sukinah (37) mengucur dari kelopak matanya. Tak henti-hentinya perempuan ini menangis meratapi nasibnya. Dua iring tanah miliknya yang ditanami Supertoy oleh PT Sarana Harapan Indopangan (SHI) tidak menghasilkan apa-apa. Yang tersisa hanya kerugian, sementara PT SHI terkesan lepas tangan.

Sukinah adalah satu dari ratusan petani pemilik 103 hektare lahan yang ditanami Supertoy. Nasib mereka sama, menderita kerugian. Satu-satunya gantungan hidup mereka hanya sawah.

"Tanah kami adalah gantungan hidup kami. Kalau kondisinya begini (gagal panen), kami yang orang kecil seperti ini mau makan apa. Gabah sudah tidak punya. Sementara sebentar lagi lebaran," keluh Sukinah.

Warga lainnya, Endang (31) tak kalah sedihya. Dia juga tak henti-hentinya meneteskan air mata. Seperempat hektare sawahnya juga menjadi satu-satunya gantungan hidup.

"Kalau tidak dikontrak untuk tanam Supertoy, musim seperti ini kita sudah selesai panen. Dan siap-siap menjual untuk lebaran. Kalau seperti ini? jangankan untuk lebaran, dimakan saja kami tak ada," katanya sembari sesenggukan.

Para petani berharap diperlakukan adil. Mereka meminta agar PT SHI datang langsung untuk bertanggungjawab pada warga. Bukannya malah lari saat tanaman gagal panen.

Edy Tarsan (55), salah satu mengungkapkan, para petani di desa Grabag sangat kecewa dengan keadaan ini. "SHI bukan hanya merugikan tapi menyengsarakan petani," keluhnya.

Permintaan ganti rugi oleh petani itu menurutnya merupakan hak petani karena padi itu merupakan satu-satunya hasil yang diharapkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Hal senada diungkapkan Saeroji (55). Petani ini mengungkapkan, sejak menanam padi supertoy dia merasa rugi bila dibangdingkan menanam padi IR-64 seperti biasanya.

Dia mengaku memiliki empat hektare lahan persawahan. Panen pertama supertoy hanya mendapatkan rata-rata 3,5 ton per hektare. Padahal awal tanam pihak investor menjanjikan satu hektare bisa menghasilkan 14,6 ton.

"Padahal kalau IR bisa mencapai 10 ton per hektare, jadi kerugiannya sekitar 9 ton per hektare," katanya.

Pada singgang kedua ini ungkap Saeroji, PT SHI tidak melakukan sosialisasi kepada warga. SHI dinilai setelah tahu pada panen pertama tidak sesuai dengan harapan, singgang kedua ini diserahkan pada warga untuk melanjutkannya.

Penyerahan itu memang menggunakan surat, kata Saeroji warga pernah menolak karena tidak pernah memelihara singgang. "Dari panenan pertama SHI merasa gagal akhirnya mencari alasan gak tahu arahnya gimana akhirnya melarikan diri," tambahnya.

Iswahyudi dari pihak SHI, lanjut Saeroji, juga pernah menjanjikan untuk membuatkan sumur bor dan pompa air untuk mnegairi. Karena dilihat dari musimnya, untuk panen singgang ketiga sudah tidak mendapatkan air lagi.

Bagi sebagian besar warga Grabag, padi memang menjadi satu-satunya sumber penghidupan.

"Orang kayak saya cuma petani kecil, kalau gak panen ya gak bisa bayar sekolah anak, gak bisa makan karena saya cuma menggantungkan hidup dari bertani. Padahal kalau buat bayar sekolah kan gak bisa ditunda, lalu kalau seperti ini tidak ada kejelasannya bagaimana nasib kita," keluh Sukinah.

(Nur Kholiq /CN09)

Tidak ada komentar: