Sabtu, 06 September 2008

Kumpulan Kliping Berita dari blog : www.sehatbagus.blogspot.com

Sumber : www.sehatbagus.blogspot.com

Sabtu, 2008 September 06

Orangtua Tuyung Supriyadi Tak Tahu Anaknya Penemu Super Toy

Yogyakarta, Basiran (70) orangtua Supriyadi alias Tuyung atau Toyong (32) tidak mengetahui bila anaknya adalah penemu padi Super Toy, dengan sekali tanam bisa tiga kali panen. Basiran juga mengaku tidak mengetahui secara pasti pekerjaan anaknya saat ini karena jarang sekali pulang ke rumah di Bantul.

"Kulo mboten ngertos, menawi anak kulo meniko nemokaken pantun Super Toy, (Saya tidak tahu bila anak saya itu yang menemukan padi Super Toy," kata Basiran kepada wartawan di rumah Desa Srigading, Kecamatan Sanden, Bantul, Sabtu (6/9/2008).

Menurut Basiran, Toyong anaknya juga jarang sekali pulang di rumahnya di Srigading Sanden. Bila pulang ke rumah hanya sebentar satu-dua hari atau bahkan hanya beberapa jam di rumah kemudian pergi lama berhari-hari lagi. Saat ini, dia sudah lebih dari 15 hari belum pulang ke rumah.

Dia pun juga tidak mengetahui secara persis kapan, Toyong yang mempunyai nama asli Supriyadi itu mulai menekuni dunia pertanian. Namun pasca gempa 27 Mei 2006, dia meminta izin ayahnya untuk menggunakan sebagian lahan sawah milik keluarga. Lahan sawah itu digunakan untuk menanam padi yang dijadikan percobaan.

Di sawah miliknya dijadikan Laboratorium padi Super Toy oleh Toyong. Dia menanam beberapa jenis padi seperti Super Toy, Memberamo, Jali dan Menceru. Beberapa jenis padi itu ditanam berdekatan di lahan seluas 300-an meter persegi. Puluhan ikat padi Super Toy yang telah di panen dikeringkan untuk dijadikan bibit. "Di sini, saya bersama beberapa orang hanya menunggu dan merawat saja. Sedang yang lain seperti pembibitan dikerjakan sendiri oleh Toyong," kata Basiran.

Menurut Basiran, anaknya juga bukan lulusan sebuah perguruan tinggi, tapi hanya lulusan SMK di Yogyakarta jurusan Bangunan tahun 1995. Setelah lulus dan bekerja, dia selalu berganti-ganti pekerjaan. Namun berdasarkan cerita Toyong, anaknya sering bepergian ke Jakarta atau daerah lain untuk urusan padi Super Toy. Basiran juga mengetahui anaknya pernah bertemu dengan Presiden SBY dan ikut hadir acara panen perdana Super Toy di Grabag Purworejo, 17 April 2008.

"Kalau pekerjaan apa pastinya saya tak tahu. Setahu saya hanya mengerjakan tanam padi Super Toy di laboratorium dan jarang ditunggu," kata Basiran.

BPTP Yogyakarta: Hasil Panen Super Toy 7,3 Ton/Hektar

Yogyakarta - Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta telah melakukan uji tanam padi Super Toy di Desa Muruh Kecamatan Gantiwarno, Klaten. Hasilnya hanya 7,3 ton/hektar. Padahal sebelumnya digembar-gemborkan padi jenis ini bisa menghasilkan 12 ton/hektar.

"Jumlah 7,3 ton/hektar itu masih normal. Kalau sudah lebih dari 12 ton/hektar berarti sudah tinggi sekali," kata Kepala BPTP Yogyakarta, Dr Subowo G, MS kepada detikcom melalui telepon, Sabtu (6/9/2008).

Menurut dia dari hasil percobaan di Muruh, Gantiwarno di bawah tim peneliti Rob Mujisihono di lahan milik Sumarno. Pada panen 30 Agustus 2008 produksi mencapai 7,3 ton per hektar gabah kering panen. Belum ada produksi yang melebihi dari jumlah itu.

"Masa tanamnya 150 hari dengan tinggi tanaman rata-rata 150 cm. Bibit yang ditanam itu juga sama dengan yang ada di Grabag, Purworejo," katanya.

Subowo mengaku sebagai peneliti pihaknya penasaran dengan kedatangan 2 orang staf Tuyung tanpa Tuyung Supriyadi ke kantor BPTP Yogyakarta pada pertengahan bulan Maret 2008. Mereka menyatakan telah menemukan padi kualitas tinggi Super Toy. Kepadanya, dua orang menyampaikan kelebihan Super Toy yang memproduksi lebih 12 ton per hektar setiap musim tanam dan tahan ratoon 2 kali dengan produksi tetap tinggi.

"Karena di Yogya sedang dicanangkan Jogya Seed Center (JSC) untuk menjadi pusat perbenihan, hal itu kita sambut positif. Kami pun kemudian melakukan riset di beberapa tempat untuk uji multi lokasi di DIY dan sekitarnya. Ini sangat penting karena karakteristik tiap-tiap daerah tanahnya berbeda-beda," katanya.

Dia menambahkan selain melakukan riset di Desa Grabag Purworejo dan Dusun Nglobang Desa Mlilir, pihaknya juga melakukan percobaan penanaman Super Toy di Klaten dan Bantul. Tujuannya untuk mengetahui kebenaran hal tersebut dan sebagai bahan laporan ke Balai Besar Pertanian dan Menteri Pertanian di Jakarta.

"Hasil riset kami mengenai Super Toy sudah diterima pak menteri sebelum presiden datang ke Purworejo baik riset di Grabag maupun Delopo," katanya.

Jumat, 2008 September 05

Tuyung Supriyadi Penemu Supertoy Pernah Minta Sertifikasi

Yogyakarta, Tuyung Supriyadi, laki-laki yang tinggal di Bantul yang mengaku sebagai penemu padi varietas unggul baru yang dinamai Supertoy HL2 belum diketahui keberadaannya. Sebelum acara panen raya padi Supertoy HL2 di Desa Grabag, Purworejo, dia bersama beberapa rekannya pernah mendatangi kantor Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta.

Tujuannya menunjukkan kepada kepala balai mengenai temuan varietas unggul baru. Dia berkeinginan untuk mendaftarkan ke Departemen Pertanian jenis padi yang dinamainya Supertoy belum ditambah HL2 (Heru Lelono).

Hal itu diungkapkan Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta, Dr Subowo, MS kepada wartawan di kantor Maguwoharjo, Depok, Sleman, Jumat (5/9/2008).

"Dia (Tuyung-red) itu ke kantor sini sekitar tahun 2007 untuk menunjukkan temuan varietas padi baru yang dinamakan supertoy yang bisa menghasilkan padi berlipat banyak," kata Bowo.

Saat itu Bowo bersama staf peneliti lainnya tidak langsung mempercayainya terutama mengenai asal-muasal jenis padi sebelumnya. Dia hanya mengatakan hasil persilangan saja. Dia juga ingin mendaftarkan temuan itu sebagai varietas baru padi unggul karena bisa meningkatkan hasil yang banyak.

"Saat itu kita terima baik dan positif karena memang kita mencari jenis unggul yang baru untuk wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Namun kita perlu mengkaji lebih dulu," katanya.

Menurut Bowo, Tuyung kemudian menjelaskan dia melakukan percobaan padi itu dengan media sebuah pot besar dengan serumpun padi hasil temuannya itu. Ketika dilakukan percobaan dengan penggunaan pupuk dan perawatan ternyata bisa menghasilkan padi yang banyak dan meningkat hanya sekali tanam.

"Percobaan itu baru dilakukan di media pot, berarti akan lain jika di media yang lebih besar seperti sawah dan hasilnya tidak bisa hanya dihitung berdasarkan hasil perkalian di pot saja," katanya.

Dia mengatakan setelah mendatangi kantor BPTP Yogyakarta itu untuk menunjukkan temuan padi varietas unggul baru itu, Tuyung tidak pernah datang lagi. Namun setelah itu terdengar kabar beberapa lahan pertanian di Grabag Purworejo sudah ditanami dengan bekerjasama PT SHI. Di Bantul dia akan melakukan hal yang sama, namun Bupati dan Kepala Dinas Pertanian setempat tidak mengizinkan.

Bowo menambahkan setelah panen raya Supertoy di Grabag, pihaknya telah melakukan beberapa kali riset dan kajian di Grabag, Desa Mlilir Kecamatan Delopo Madiun yang ditanami Supertoy. Beberapa lahan di Imogiri Bantul dan Gantiwarno Klaten yang ditanami Supertoy juga diteliti selama tahun 2008 ini. Laporan hasil riset itu juga telah disampaikan kepada Menteri Pertanian Anton Apriantono pada tanggal 10 April 2008 atau sekitar satu minggu sebelum acara panen raya 17 April 2008.

"Kita lakukan riset saat ini, karena ada permintaan dari pak menteri. Hal itu sudah kami laporkan semuanya termasuk beberapa hasil riset di tempat lain. Hasilnya beda dengan yang gancar dipromosikan bisa meningkatkan hasil berlipat-lipat," pungkas Bowo.

Peneliti : Mustahil Supertoy Capai Lebih dari 15 Ton/Hektar

Yogyakarta, Saat diresmikan panen perdana oleh Presiden SBY, padi Supertoy HL2 di Desa Grabag Purworejo dinyatakan padi dengan sekali tanam itu bisa 3 kali panen dengan hasil terus meningkat. Dari panen pertama 9 ton/hektar terus meningkat hingga mencapai lebih dari 15 ton/hektar.

Pernyataan itu dibantah oleh Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta, Dr Subowo, MS kepada wartawan di kantor Maguwoharjo, Depok, Sleman, Jumat (5/9/2008).

"Kalau jenisnya seperti Rajalele, bila mencapai 9 ton/hektar Gabah Kering Pungut (GKP) itu hebat, apalagi varietas lokal. Sebab hanya mencapai 7 ton/hektar itu biasa, paling banyak 7,3 ton/hektar," kata Subowo.

Dia menyatakan keraguannya secara praktek bila pencapaian hasil panen Supertoy yang terus meningkat atau naik dari masa panen pertama hingga ketiga yang dikatakan bisa mencapai 15 hingga 20 ton/hektar. Sebab biasanya pada masa singgang atau masa panen berikutnya pasti akan menurun.

"Pengalaman penelitian yang dilakukan oleh peneliti BPTP Yogyakarta seperti yang dilakukan Pak Rob Muji Sihono pada masa ratun setelah panen pertama justru turun hingga sekitar 6,3 ton/hektar atau menurun lebih dari 15 persen," kata Bowo didampingi Rob Muji Sihono.

Bowo mengatakan hasil 7 ton/hektar itu dengan catatan tidak ada hama wereng atau hewan serangga lain seperti walang sangit, kepik, hama penggerek batang padi atau dimakan burung. Kenyataannya di Grabag Purworejo atau di wilayah lain juga dimakan hama wereng dan serangga lain.

Menurut Bowo, penggunaan pupuk kimia untuk Supertoy juga lebih banyak dibanding jenis lainnya. Pupuk Urea diberikan 2 kali masing 75 kg/ha, pupuk SP-36, sebanyak 3 kali masing-masing 75 kg/ha, pupuk KCL 3 kali masing-masing 75 kg/ha. Selanjutnya pupuk ZA sebanyak 75 kg/ha dan NPK Mutiara sebanyak 3 kali masing-masing 75 kg/ha.

"Pemakaian pupuk di atas 100 kg untuk SP-36 dan KCL hingga 225 kg/ha itu sudah tidak signifikan dan tidak akan meningkatkan hasil," pungkas Bowo.

Peneliti : Supertoy HL2 Mirip Dengan Rojolele

Yogyakarta, Padi Supertoy HL2 bukan padi varietas unggul baru, tapi jenis unggul lokal. Padi ini ternyata mirip dengan jenis Rojolele yang banyak di tanam warga Delanggu, Klaten Jawa Tengah atau yang ditanam di beberapa daerah di Yogyakarta.

Hal itu diungkapkan salah seorang peneliti dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta, Rob Muji Sihono kepada wartawan di kantor Maguwoharjo, Sleman, Jumat (5/9/2008).

"Kalau dilihat dari bentuknya saat kita lakukan penelitian, Supertoy itu identik dengan Rojolele. Itu bukan varietas unggul baru tapi termasuk padi unggul lokal," kata Rob panggilan akrabnya.

Menurut dia, dari bentuk fisiknya seperti tinggi batang lebih dari 130 cm, panjang malai, bentuk buahnya serta ada bulunya itu jelas jenis padi Rajalele. Umur tanaman antara Supertoy dengan Rajalele juga sama sekitar 150 hari. Padi Rojolele yang termasuk jenis lama ini juga telah diputihkan oleh pemerintah pada tahun 2003.

Rajalele di lapangan dikenal dengan tiga jenis. Jenis pertama yang berbatang ungu seperti yang ditanam petani Grabag, yang kemudian dikenal dengan Supertoy HL2. Kedua, batang hijau sepertiyang ditanam di wilayah Imogiri Bantul. Ketiga dengan batang warna coklat yang ditanam di Kecamatan Gantiwarno Klaten.

"Kalau mengalami perubahan warna batang itu wajar dan biasa. Ciri fisik Rajalele itu ada noda putih dibagian perut. Jelas bukan jenis baru," kata Rob didampingi Kepala BPTP, Dr Subowo, MS.

Rob mengatakan pihaknya telah melakukan penelitian di lapangan tempat Supertoy ditanam diantaranya di Grabag Kabupaten Purworejo dan di Delopo, Madiun. Di Grabag tinggi batang padi ada yang mencapai 188 cm atau setinggi badan manusia dengan rumpun antara 8-13 batang atau rata-rata 11 batang, pasti akan roboh bila terkena tiupan angin kencang. Sedang di Bantul dan Klaten, rata-rata tinggi batang 131 dan 133 cm. "Batang padi juga tidak dapat menahan malai yang panjang," pungkas dia.

Kamis, 2008 September 04

Petani Grabag Tuntut Iswahyudi Selesaikan Masalah

Purworejo, Petani Desa Grabag menuntut Iswahyudi atas nama PT "Sarana Harapan Indopangan" (SHI) segera menyelesaikan masalah proyek penanaman padi Super Toy HL2 yang mengalami gagal panen.

PT SHI tidak boleh lempar tanggungjawab dengan beralasan proyek itu hanya satu kali tanam saja. Padahal awal proyek penanaman Super Toy di lahan seluas 103 hektar yang dinyatakan satu kali tanam bisa 3 kali panenan.

"Iswahyudi harus datang menemui petani sebagai bentuk pertanggungjawaban PT SHI," kata Lurah Desa Grabag, Gandung Sumrayadi kepada detikcom di rumahnya Desa Grabag Kecamatan Grabag Kabupaten Purworejo Jawa Tengah, Kamis (4/9/2008).

Menurut Gandung, karena padi Super Toy HL 2 itu katakan bisa panen 3 kali dalam sekali tanam, maka Iswahyudi atau PT SHI tidak bisa hanya sekali masa panen. Sedang dua kali panen berikutnya dibebankan pada petani. "Tidak bisa seperti itu. Sama saja tidak bertanggungjawab. Ibaratnya mereka itu seperti orang tabrak lari saja," katanya.

Padahal lanjut Gandung, panen kedua saat ini banyak petani yang gagal. Jumlah lahan juga berkurang dari 103 hektar menjadi 90-an hektar. Sebagian petani kembali menanam jenis padi lain seperti IR 36. Tanaman padi Super Toy HL2 banyak yang puso, dimakan hama wereng dan banyak bulir padi yang kosong atau tidak berisi. Kegagalan itu tidak bisa dibebankan petani saja. "Meraka nanti mau makan apa. Apa pemerintah desa yang harus menanggung beban," ungkap adik kandung Bupati Purworejo itu.

Gandung menegaskan pihaknya menuntut Iswahyudi karena dia atas nama PT SHI sudah menyatakan kesanggupannya memberikan bantuan seperti yang tertulis dalam surat pernyataan kesanggupan tertanggal 4 April 2008. Surat itu yang menjadi pegangan petani Grabag untuk menuntut. "Orang-orang yang ikut proyek tersebut seperti Toyong Supriyadi yang dikatakan sebagai penemu padi jenis itu juga sudah tidak kelihatan batang hidungnya lagi," pungkas dia.

Lurah Desa Grabag Bantah Ada Masalah Dengan Bupati Purworejo

Purworejo, Lurah Desa Grabag, Gandung Sumrayadi membantah pernyataan Direktur PT
Sarana Harapan Indonpangan (SHI), Heru Lelono bila kegagalan padi proyek Super
Toy HL2 di Desa Grabag Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo karena ada masalah
konflik keluarga. Konflik itu antara dirinya dengann kakaknya Kelik Sumrahadi
yang menjabat Bupati Purworejo saat ini.

"Itu tidak benar pernyataan Heru Lelono. Nggak ada saya konflik atau punya
masalah dengan kakak saya," kata Gandung kepada detikcom di rumahnya Desa Grabag
Kecamatan Grabag Purworejo, Kamis (4/9/2008).

Dia menegaskan hubungan antara dirinya dengan kakaknya selama ini harmonis sebagai keluarga besar. Demikian pula hubungan dalam tatap pemerintahan antara lurah dengan bupati juga tidak ada masalah. "Hubungan antara atasan dan bawah juga tak ada masalah. Heru Lelono jangan mencari-cari alasan," ujar Gandung.

Gandung mengatakan dirinya bersama petani Grabag melakukan protes dengan
membakar padi di sawah untuk meminta pertanggungjawaban PT SHI dalam proyek
penanaman padi Super Toy yang dinyatakan padi kualitas unggul dengan sekali
tanam bisa 3 kali panen yang terus meningkat. Kenyataannya tidak benar, justru
pada panen kedua atau masa singgang hasilnya terus menurun dan banyak dimakan
hama wereng.

"Masalah ini bukan masalah perseorangan, tapi saya sebagai kepala berkepentingan
untuk melindungi warga saya. Mereka gagal panen, mau makan apa dan bagaimana
mencukupi kehidupan sehari-harinya. Lima ratus petani itu menghidupi ribuan
kepala di Grabag," katanya.

Menurut Gandung, pada panen pertama sebelum proyek diresmikan oleh Presiden SBY
bersama Ny Ani Yudhoyono itu sudah bermasalah. Namun petani berhasil diredam.
Selain itu, proyek penanaman padi seluas 103 hektar di Grabag itu juga tidak
melibatkan dua kelompok tani yakni Gemah Ripah 1 dan 2.

"Mereka buat kelompok tani sendiri dan tanpa sepengetahuan desa, bahkan Dinas
Pertanian Purworejo saja tidak diajak rembugan," tegas Gandung.

Tidak ada komentar: