Minggu, 07 September 2008

Petani Potong Supertoy untuk Pakan Ternak

Sumber : http://www.suaramerdeka.com

07/09/2008 12:29 wib - Daerah Aktual

Yogyakarta, CyberNews. Petani di Kabupaten Kulonprogo mengeluhkan hasil padi Supertoy jauh di bawah standar padi jenis IR 64. Selain hasil tidak memuaskan, untuk proses penggilingan juga memerlukan waktu lama. Kini mereka memotongi padinya yang tersisa untuk pakan ternak.

''Hasilnya sangat tidak memuaskan, saya hanya menanam dua kali yang sekali sudah panen dan yang kedua ini hanya untuk pakan ternak,'' ujar Darminto, salah seorang petani yang terakhir menanam padi Supertoy di Pundak, Nanggulan, Kulonprogo, Minggu (7/9).

Dia menceritakan tahun 2007 lalu ada beberapa petani mencoba jenis yang katanya varietas baru dan unggul tersebut. Konon dalam setahun dapat panen tiga kali. Namun kenyataannya baru panen sekali saja hasilnya membuat mereka nggrundel. Darminto misalnya yang menanami seluruh lahannya, sekitar 2.000 meter persegi dengan Supertoy ternyata ketika panen tidak memuaskan.

Para petani juga kesulitan panen karena ketinggian padi mencapai 150 cm. Selain itu, padi tidak tua bersamaan sehingga dia dan teman-temannya harus memilih tanaman yang sudah tua ketika panen. Lebih repot lagi, jerami yang panjangnya setinggi orang dewasa menyita tempat.

''Cara memotong juga harus menggunakan ani-ani karena harus memilih batang per batang tanaman yang sudah tua, sangat tidak praktis,'' jelasnya.

Cukup Sekali

Darminto menuturkan lahan seluas empat petak miliknya hanya menghasilkan 3,5 kuintal gabah. Padahal ketika ditanami dengan jenis IR 64 hasilnya sangat bagus bisa mencapai 6-7 kuintal. Masih belum percaya dengan hasil itu dia mencoba menanami lagi namun baru setengah jalan dibiarkan begitu saja. Pasalnya para petani lain juga menceritakan hasil panenan tidak bagus.

''Padi jenis ini bukan varietas baru karena dulu juga sudah ada, namanya padi bulu karena di bagian batangnya ada bulu-bulu, orang tua bilang namanya padi Jawa. Jenis ini ditinggakan karena tidak produktif. Cukup sekali ini sajalah'' imbuh dia yang kemudian kembali ke selera asal yakni IR 64.

Beruntung, katanya, petani di sana yang uji coba menanam hanya sedikit. Lainnya tetap memilih menanami sawahnya dengan padi yang sudah jelas teruji hasilnya. Dengan begitu tingkat kerugian juga sedikit, yang jelas rugi waktu dan tenaga. Berbeda dengan petani di Purworejo yang membakar tanamannya, petani Kulonprogo hanya memotong untuk makanan ternak.

(Agung Priyo Wicaksono /CN09)

Tidak ada komentar: